wakaf keluarga

Urusan wakaf tentu bukanlah hal asing di masyarakat muslim Indonesia. Salah satu instrumen keuangan syariah ini penting dan punya potensi besar dalam pembangunan yang berkelanjutan. Hanya saja, tidak semua masyarakat yang tahu bahwa wakaf ada beragam jenisnya, tidak hanya berupa aset tanah dan bangunan. Salah satunya adalah wakaf asuransi syariah.

Wakaf punya karakteristik utama yaitu sifatnya sukarela dan aset wakafnya abadi atau tidak boleh berkurang sedikitpun. Hal ini berarti setiap pokok wakaf tetap dan hasil investasinya digunakan untuk kepentingan masyarakat banyak.

Wakaf sendiri terbagi menjadi dua jika dilihat dari segi peruntukannya, yaitu wakaf keluarga dan wakaf kebajikan (wakaf khairi). Wakaf keluarga maksudnya adalah wakaf yang ditujukan untuk anak cucu dari generasi ke generasi. Sedangkan wakaf kebajikan merupakan wakaf yang diperuntukkan bagi kepentingan umum.

Secara prinsip keduanya sama, yaitu bertujuan untuk membantu pihak-pihak yang membutuhkan sesuai dengan perintah Allah SWT pada manusia agar membelanjakan sebagian hartanya untuk orang lain, bisa dilihat dalam surat Ali Imran ayat 92.

Sedangkan perbedaannya terletak pada pemanfaatannya, di mana wakaf ahli (keluarga) hanya digunakan sebatas oleh keluarga wakif saja, mulai dari anak-anaknya hingga semua keturunannya hingga seluruh anggota keluarga tersebut meninggal dunia. Setelah itu, barulah wakaf ahli boleh dipergunakan untuk keperluan orang lain seperti yatim-piatu, fakir miskin, serta pihak yang membutuhkan. Wakaf khairi yaitu wakaf yang sejak awal sudah ditujukan untuk kepentingan umum yang bisa menjadi sumber investasi untuk pembangunan ekonomi, bidang sosial, pendidikan, dan sebagainya.

wakaf kebajikan

Inilah yang menjadi landasan yang menyebut wakaf merupakan ibadah dengan dimensi ganda. Tidak hanya untuk mendapatkan ridho dan pahala dari Allah, tetapi juga menciptakan hubungan baik antar sesama manusia dan lingkungannya.

Pada manajemen modern, wakaf bisa diintegrasikan dengan bebragai sistem yang ada. Ini menyangkut wakaf uang yang memang gencar dikembangkan di Indonesia. Terlebih setelah dikeluarkannya Fatwa MUI No.106/DSN-MUI/X/2016 tentang Wakaf Manfaat Asuransi dan Manfaat Investasi pada Asuransi Jiwa Syariah yang menyebut bahwa manfaat asuransi dan investasi pada investasi syariah boleh diwakafkan asal semua calon penerima manfaat yang ditunjuk (ahli waris) setuju dan sepakat.

Tentu saja wakaf akan sangat bagus bila dikombinasikan dengan asuransi syariah. Sebab ditinjau dari segi jenis dan pembagiannya, keduanya memiliki kemiripan. Tidak hanya wakaf, asuransi juga ada dua jenisnya yaitu asuransi keluarga (asuransi jiwa) dan asuransi umum. Keduanya juga memiliki tujuan yang mulia yaitu untuk saling tolong menolong membantu meringankan beban bersama dan untuk kesejahteraan.

Perusahaan asuransi berbasis syariah punya peran strategis yaitu sebagai penerima dan pengelola wakaf serta menjadi penyalur hasil investasinya. Perusahaan pengelola asuransi ini sebagai nazhir wakaf uang. Hanya saja dana wakaf tersebut tidak boleh berkurang sedikitpun dan juga tidak diperkenankan digunakan untuk biaya operasional, biaya klaim, atau untuk apapun. Sebab dana wakaf merupakan aset tetap yang abadi. Melainkan dana wakaf haruslah bisa menghasilkan dan berkembang yang nantinya untuk kemaslahatan umat.

Pada pengelolaannya, wakaf asuransi ini dibagi dua, yaitu model tabungan (saving) dan bukan tabungan (non saving). Model saving lebih umum diberlakukan pada jenis asuransi syariah keluarga (takaful keluarga). Nantinya, premi yang dibayarkan akan dimasukkan dalam dua rekening yang berbeda, yaitu rekening tabungan dan tabarru’. Hal yang perlu diingat adalah, dana wakaf yang masuk dalam rekening tabungan ini tidak boleh dikembalikan lagi pada wakif (peserta asuransi) karena dana tersebut sudah diwakafkan. Sama dengan hasil investasinya yang harus disalurkan atau diberikan pada yang berhak (mauquf alaih) yang sudah ditunjuk peserta.

Sama halnya sengan dana wakaf dalam rekening tabarru’ yang juga tidak boleh dipergunakan sebelum diinvestasikan. Hasil dari investasi inilah yang boleh dipergunakan untuk menolong sesama peserta asuransi dan juga untuk dana klaim. Dana wakaf pada kedua rekening ini harus tetap utuh dan tidak boleh berkurang nilai nominalnya.

Pada jenis inilah, sangat strategis jika diterapkan pada jenis asuransi syariah keluarga (takaful keluarga) yang punya konsep sama dengan wakaf ahli (keluarga). Di mana wakif mewakafkan hartanya agar dikelola dan dikembangkan oleh nazhir secara produktif. Kemudian hasil investasi yang didapat digunakan untuk kesejahteraan keluarga. Takaful keluarga dengan basis wakaf ini klaim tidak akan dibatasi jangka waktu tertentu, sehingga manfaatnta bisa dirasakan oleh pihak keluarga selamanya dari generasi ke generasi.

Jika lebih dirinci operasionalnya, semua premi takaful keluarga akan dikumpulkan dan disatukan dalam kumpulan dana wakaf peserta kemudian akan diinvestasikan pada beragam pembiayaan yang tidak bertentangan dengan syariah. Hasil bersih dari investasi tersebut dibagi sesuai dengan mudharabah yang disepakati bersama. Maksimal 10 persen dari total keuntungan boleh digunakan oleh pihak perusahaan dan sisanya untuk mauquf alaih yang sudah ditunjuk oleh wakif.

Berbeda dengan model pengelolaan dana wakaf asuransi syariah non saving. Sesuai dengan namanya, pada model ini tidak ada unsur tabungan. Bisa juga dipraktekkan dalam jenis takaful umum. Nantinya dana wakaf akan dikelola dalam satu rekening tabrru’. Dana yang dikumpulkan tidak boleh langsung digunakan untuk klaim atau operasional, melainkan mesti diasuransikan terlebih dahulu. Hasil investasinya barulah dialokasikan untuk kepentingan bersama dengan pembagian maksimal 10 persen untuk perusahaan asuransi dan 90 persen sisanya untuk biaya saling tolong menolong antar sesama peserta asuransi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here